DDPI Kalimantan Timur

Strategi Pembangunan Kalimantan Timur yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

January 15, 2020
Aspianur Akhmad Fauzi
990

RINGKASAN EKSEKUTIF 

Kalimantan Timur memiliki sasaran yang dilandasi tekad kuat menjadi Provinsi yang Hijau. Tercakup di dalam sasaran ini adalah kontribusi kepada target penurunan emisi nasional Indonesia sebesar 26 persen pada tahun 2020. Visi kami Kalimantan Timur yang Hijau juga mencakup membangun sektor-sektor perekonomian ramah lingkungan berkelanjutan baru, yang juga adil dan sesuai dengan keyakinan kami dalam ”membangun Kalimantan Timur untuk semua.”
Dokumen ini juga menjabarkan rangkaian inisiatif yang komprehensif yang tertuju pada pembangunan perekonomian berbasis perubahan iklim. Kami mempertimbangkan langkahlangkah yang perlu kami ambil untuk melindungi masyarakat kami dari dampak perubahan iklim. Langkah-langkah pengurangan, langkah-langkah adaptasi dan peluang-peluang pembangunan merupakan satu kesatuan kerangka kerja strategi pembangunan sesuai iklim provinsi Kalimantan Timur.

PENGURANGAN EMISI Lima inisiatif yang besar berkontribusi sebesar 75 persen dari semua peluang penurunan CO2e di provinsi. Dan sementara kelima inisiatif tersebut membutuhkan pendekatan yang berbeda, semua upaya tersebut memiliki kesamaan: meningkatkan efisiensi penggunaan lahan.

  1. Satu langkah terpenting yang dapat diambil untuk menurunkan emisi adalah menerapkan kebijakan nir-pembakaran. Kebijakan ini dapat menurunkan emisi di Kalimantan Timur sebesar 47 MtCO2e hingga tahun 2030, dengan biaya USD 0,40 per ton;
  2. Pembalakan dengan dampak yang telah dikurangi, secara keseluruhan merupakan peluang pengurangan terbesar kedua, dengan potensi untuk mencegah 34 MtCO2e emisi, dengan biaya USD 1,10 per ton;
  3. Reboisasi dan rehabilitasi sebagian hutan yang telah rusak akan memulihkan fungsi ekosistem dan juga menyerap karbon, sehingga mengurangi emisi sebesar 12 MtCO2e dengan biaya USD 2,60 per ton;
  4. Rehabilitasi dan pengelolaan air lahan-lahan gambut yang telah dibuka sebelumnya, menawarkan kemungkinan pengurangan 18 MtCO2e dengan biaya rata-rata USD 0,50 per ton;
  5. Penggunaan lahan kritis untuk perluasan perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman, dan pertanian di kemudian hari akan membantu kami mengembangkan industriindustri penting tersebut dan pada saat yang sama menghasilkan penurunan emisi sebesar 24 MtCO2e dengan biaya USD 5,50 per ton.

Satu langkah pertama untuk membantu perluasan perkebunan pada lahan kritis adalah pengembangan basis data lahan kritis provinsi, yang fokus pada tanah, tutupan hutan, tata guna dan kepemilikan lahan yang ada, serta dimensi-dimensi potensi ekonomi lainnya. Lahanlahan kritis perlu diidentifikasi secara khusus dalam proses perencanaan tata ruang, dan harus menjadi prioritas dibandingkan dengan wilayah-wilayah hutan dalam pemberian izin lokasi perkebunan. Subsidi untuk penggunaan lahan kritis dan/atau pajak karbon tinggi atas lahan hutan mungkin pula diperlukan untuk mendorong sektor swasta menggunakan lahan-lahan kritis. Mungkin pula diperlukan untuk memberikan kompensasi bagi para pemilik konsesi kelapa sawit untuk beralih dari lahan hutan ke lahan kritis.
Dengan memperhitungkan semua batasan praktis tersebut, penggunaan lahan kritis yang tepat waktu dapat menyelamatkan sekitar 500.000 ha hutan di tingkat provinsi. Penggunaan lebih banyak lahan kritis dapat dicapai relatif cepat apabila penerbitan konsesi baru untuk penanaman kelapa sawit secara serentak ditangguhkan, sebagaimana telah diumumkan oleh Presiden sebagai bagian dari Kemitraan REDD+ Norwegia-Indonesia.

UPAYA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Seiring dengan upaya kami untuk mengurangi emisi, terdapat sejumlah inisiatif pertumbuhan pelengkap yang harus segera kami lakukan, sebagai bagian dari upaya pembangunan perekonomian yang berkelanjutan. Lima yang terbesar dari upaya-upaya tersebut dapat meningkatkan PDB sampai dengan Rp 68 triliun pada tahun 2030, dan dengan demikian meningkatkan pertumbuhan kami dari 3 persen per tahun menjadi 5 persen tanpa menambah emisi. Di sini ditekankan untuk memperoleh lebih banyak nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam kami.

  1. Pengembangan metana, coal-bed methane – CBM
  2. Mengembangkan pabrik-pabrik bubur kertas dan kertas terpadu.
  3. Perbaikan pengelolaan hutan tanaman dapat menghasilkan tambahan Produk Domestik Bruto sebesar Rp 4,9 triliun.
  4. Percepatan eksplorasi minyak dan gas juga penting untuk memperlambat kemunduran dalam sektor minyak dan gas, yang masih merupakan kontribusi terbesar dalam perekonomian
  5. Peningkatan produktivitas sektor pertanian kami juga penting.

FAKTOR PENDUKUNG

Terdapat tiga tingkat tindakan yang diperlukan dari pemerintah untuk dapat merealisasikan peluang pengurangan emisi dan mendorong kegiatan ekonomi yang dijabarkan secara singkat di atas, dan secara lebih rinci pada halaman-halaman selanjutnya. Tiga tingkat tindakan tersebut mungkin merupakan rangkaian tindakan terpenting yang diperlukan, karena tanpa pengaturan yang tepat dari mitigasi perubahan iklim dan pembangunan yang berkelanjutan, kami tidak akan berhasil.

  1. menegakkan aturan-aturan yang ada dengan lebih baik
  2. menyesuaikan dan mereformasi rejim regulasi dan penegakan hukum
  3. membangun sistem yang benar-benar baru untuk mengatasi tantangan-tantangan perubahan iklim

Analisis menunjukkan bahwa kami dapat mencapai pertumbuhan dan mengurangi emisi karbon. Pengalaman mengatakan bahwa hal ini sulit, tetapi juga memberikan kami keyakinan bahwa banyak hal dapat dicapai, jika melihat catatan pembangunan provinsi dalam beberapa puluh tahun terakhir. Merealisasikan perubahan ini juga akan membutuhkan sumber keuangan yang signifikan, dan kami memperkirakan untuk menurunkan emisi kami melalui inisiatif-inisiatif tersebut akan membutuhkan biaya antara USD 3,10 per ton CO2e terkurangi. Biaya ini akan meningkat seiring dengan waktu, dari USD 20-30 juta di tahun 2012 ke USD 370-570 di tahun 2030.
Kalimantan Timur memiliki masyarakat yang sangat beragam, seperti juga kekayaan dan keragaman lingkungan alam kami, dari hutan dan pegunungan sampai pantai dan laut, membentang sepanjang rute perdagangan Asia Tenggara. Untuk berkembang, kami harus memiliki penggerak dan kreativitas dari semua anggota masyarakat. Pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan berarti kreativitas dan penggerak ini dibangun berdasarkan rasa hormat terhadap warisan alam yang diberikan oleh Tuhan. Dokumen lengkap dapat diunduh pada link berikut : http://bit.ly/2uNkogR

Publikasi Lainnya

1

Potensi Emisi Gas Rumah Kaca pada Pengembangan Wilayah Ibukota Negara

Potensi Emisi Gas Rumah Kaca pada Pengembangan Wilayah Ibukota Negara

Selengkapnya
2

Hasil Studi Integrasi Proklim Plus dalam Konsep Forest City IKN

Hasil Studi Integrasi Proklim Plus dalam Konsep Forest City IKN

Selengkapnya
© 2019 Dewan Daerah Perubahan Iklim Kalimantan Timur